Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AGAMA. Tampilkan semua postingan

AKHLAK TERPUJI

Tamakkan dunia ialah kecenderungan untuk memburu dan mengejar kehidupan duniawi termasuk mengumpul harta benda, mengejar kedudukan pangkat, nama dan darjat, menyintai kemewahan hidup dan melupakan tanggungjawab terhadap Allah SWT

Islam tidak menegah atau menghalang umatnya mencari kekayaan dan kebahagian di dunia, sebaliknya apa yang ditekankan ialah memburu kebahagiaan hidup di dunia dan janganlah sampai lupa tanggungjawab mempersiapkan diri dengan amalan serta bekalan kehidupan di akhirat.

Allah SWT berfirman yang bermaksud:”Dan carilah kurniaan Allah untuk kebahagiaan di akhirat di samping itu jangan pula engkau lupa kepada kebahagiaan di dunia.” (Surah Al-Qasas:ayat 77)

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: “ Bekerjalah kamu untuk kepentingan di dunia ini seolah-olah kamu akan hidup buat selamanya, tetapi beramallah untuk kepentinganmu di akhirat seolah-olah kamu akan mati pada esok hari.”(Hadis riwayat Al-Asyakin)

Jelas Islam adalah agama yang radikal serta tidak pasif, ia menyarankan perspektif luas supaya wujud keseimbangan antara kepentingan dunia dan akhirat antaranya menerusi kewajipan berzakat; yang kaya membantu golongan yang memerlukan.

Malah, selain ganjaran pahala, amalan zakat menjadikan umat Islam bersifat rendah hati dan mereka yang rendah hati tergolong dalam golongan sangat dikasihi Allah SWT. Sejarah Islam sudah menunjukkan bukti jelas bahawa orang yang tamakkan dunia akan menerima pembalasan daripada Allah, bukan saja di dunia, tetapi di akhirat seperti berlaku terhadap Qarun seorang hartawan yang hidup pada zaman Nabi Daud a.s.

Disebabkan sifat tamak dan haloba atas rezeki yang Allah SWT kurniakan, Qarun bersama hartanya ditelan bumi. Begitu juga Firaun yang bongkak hingga mengaku dirinya tuhan akhirnya mati dihanyutkan arus lautan yang bergelora.

Marilah kita menyedari hakikat bahawa segala kekayaan dimiliki seseorang adalah suatu ujian daripada Allah SWT untuk melihat sejauh mana kesyukuran serta ketakwaan kita dalam menerima anugerah itu.

Bagi yang tebal rasa keimanannya tentu saja mereka akan member segala kekayaan dan harta benda itu sebagai pemberian yang perlu disyukuri, manakala mereka yang tamak dan haloba sering berasa tidak pernah cukup lalu akhirnya kekayaan menjadikan ia bertambah sombong, bongkak,kikirdan kedekut serta berpaling menjauhkan diri daripada Allah SWT.

Oleh itu sifat rendah hati amat ditekankan di dalam Islam kerana sifat rendah hati boleh menjadi benteng mencegah daripada rasa tamak haloba terhadap dunia.

Firman Allah SWT yang bermaksud: “Bahawa kebanyakan manusia itu sentiasa bersifat tamak serta tidak pernah bersyukur, jika kami berikan satu lembah emas nescaya dia akan meminta lagi, kemudian bila kami berikan dua lembah emas sekalipun, namun dia tidak juga berasa cukup lalu memintanya lagi.”

Sementara dalam kumpulan riwayat (Al-Futahal Makkiyah) Allah SWT berfirman yang bermaksud:
“Sesungguhnya manusia itu kebanyakannya berada di dalam kecukupan tetapi mereka masih mencari akan apa yang membawanya kepada kedurhakaan, seseungguhnya manusia itu juga tidak pernah berasa cukup dengan sedikit, tetapi tidak pula mereka berasa puas dengan yang banyak.”

Pada zaman Rasullullah SAW ada seorang sahabat bernama Abu Sa’labah yang hidup dalam keadaan miskin, tetapi terkenal sebagai seoarang yang cukup taat mengerjakan sembahyang berjemaah bersama nabi serta sahabat.

Nabi Muhammad SAW hairan kerana Abu Saalabah tidak pernah mahu ikut bersama jemaah lain untuk mengaminkan doa dibaca Baginda setiap kali selepas selesai menunaikan solat.


Pada suatu hari ketika Abu Saalabah hendak bangun meninggalkan jemaah yang sedang mengaminkan dia, tiba-tiba Rasullullah SAW memanggilnya searya bertanya:”Wahai Saalabah, mengapa aku lihat engkau tidak pernah menunggu bersama orang lain untuk mengaminkan doaku.”

Maka Saalabah pun menjawab:”Wahai Rasullullah, sebenarnya hamba ini seorang yang sangat miskin, kebetulan hanya inilah saja sehelai kain(sambil memegang kain yang dipakainya) yang hamba miliki, oleh itu hamba tidak sempat untuk menunggu lama bagi mengaminkan doa tuan, sebab kain ini jugalah yang hendak dipakai oleh isteri hamba yang kini sedang menunggu untuk bersembahyang di rumah.”

Mendengarkan jawapan itu, Rasulullah SAW tercengang lalu baginda bertanya pada Abu Saalabah:”Jika demikian miskinnya kamu, maka mahukah engkau aku doakan supaya menjadi kaya?” lalu Abu Saalabah menjawab:”Demi engkau sebagai nabi dan kekasih Allah doakanlah supaya aku menjadi kaya.”

Selang tidak berapa lama kemudian, dengan berkat doa Nabi Muhammad SAW maka kehidupan Saalabah beransur-ansur senang sehingga dia menjadi kaya raya selaku seoarang saudagar dan tuan punya biri-biri dan unta yang banyak.

Selepas kekayaannya Abu Saalabah tidak lagi kelihatan dating kemasjid untuk menunaikan sembanyang berjemaah bersama nabi serta golongan sahabat lain. Ketika beberapa sahabat menanyakan Nabi Muhammad SAW mengenai ketiadaan Saalabah sembahyang berjemaah, lalu baginda menjawab:”Kesibukan menguruskan harta benda dan kecintaan Saalabah kepada dunia ini menyebabkan dia terlupa untuk mrncari jalan ke masjid.”

Kisah Saalabah menunjukkan bahawa kemewahan hidup serta sifat tamakkan dunia bias mengugat ketakwaan serta keimanan seseorang.

Dalam sebuah hadis sahih, seseorang yang bertanyakan kepada Nabi Muhammad SAW mengenai perbandingan antara kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat, maka jawab baginda:”Ketahuilah kamu bahawa jika dibandingkan kenikmatan yang ada di dunia ini dengan kenikmatan di dalam syurga, maka dunia sebenarnya adalah tak lebih seperti seketul bangkai yang ditarik atau direbut oleh beberapa ekor anjing.”

Sementara dalam hadis lain, bertanyakan pula seseoarang kepada Rasullullah SAW mengenai perbandingan antara dunia dengan akhirat, maka jawab baginda: “Celupkan jarimu ke dalam air laut, maka air yang menitis dari hujung jarimu itulah dunia, manakala air yang selebihnya tertinggal di lautan itulah akhirat.”
»»  READMORE...

SEJARAH NABI MUHAMMAD SAW

Muhammad (Arab: محمد, Mohammad, Mohammed, Orientalis: Mahomet, Mahomed) (570/571 - 632 Masehi) adalah pembawa ajaran Islam, dan diyakini oleh umat Muslim sebagai nabi Allah (Rasul) yang terakhir. Menurut biografi tradisional Muslimnya (dalam bahasa Arab disebut sirah), ia lahir diperkirakan sekitar 20 April 570/ 571, di Mekkah ("Makkah") dan wafat pada 8 Juni 632 di Madinah. Kedua kota tersebut terletak di daerah Hejaz (Arab Saudi saat ini).

Michael H. Hart, dalam bukunya The 100, menetapkan Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Menurut Hart, Muhammad adalah satu-satunya orang yang berhasil meraih keberhasilan luar biasa baik dalam hal agama maupun hal duniawi. Dia memimpin bangsa yang awalnya terbelakang dan terpecah belah, menjadi bangsa maju yang bahkan sanggup mengalahkan pasukan Romawi di medan pertempuran.[2]

Silsilah Muhammad dari kedua orang tuanya kembali ke Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Lu'ay bin Ghalib bin Fihr (Quraish) bin Malik bin an-Nadr (Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (Amir) bin Ilyas bin Mudar bin Nizar bin Ma`ad bin Adnan.[3] Dimana Adnan merupakan keturunan laki-laki ke tujuh dari Ismail bin Ibrahim, yaitu keturunan Sam bin Nuh.[4] Muhammad lahir di hari Senin, 12 Rabi’ul Awal tahun 571 Masehi (lebih dikenal sebagai Tahun Gajah).

Para penulis sirah (biografi) Muhammad pada umumnya sepakat bahwa ia lahir di Tahun Gajah, yaitu tahun 570 M. Muhammad lahir di kota Mekkah, di bagian Selatan Jazirah Arab, suatu tempat yang ketika itu merupakan daerah paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni, maupun ilmu pengetahuan. Ayahnya, Abdullah[5], meninggal dalam perjalanan dagang di Yatsrib, ketika Muhammad masih dalam kandungan. Ia meninggalkan harta lima ekor unta, sekawanan biri-biri dan seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman yang kemudian mengasuh Nabi.[4]

Pada saat Muhammad berusia enam tahun, ibunya Aminah binti Wahab mengajaknya ke Yatsrib (Madinah) untuk mengunjungi keluarganya serta mengunjungi makam ayahnya. Namun dalam perjalanan pulang, ibunya jatuh sakit. Setelah beberapa hari, Aminah meninggal dunia di Abwa' yang terletak tidak jauh dari Yatsrib, dan dikuburkan di sana.[3] Setelah ibunya meninggal, Muhammad dijaga oleh kakeknya, 'Abd al-Muththalib. Setelah kakeknya meninggal, ia dijaga oleh pamannya, Abu Thalib. Ketika inilah ia diminta menggembala kambing-kambingnya disekitar Mekkah dan kerap menemani pamannya dalam urusan dagangnya ke negeri Syam (Suriah, Libanon dan Palestina).

Hampir semua ahli hadits dan sejarawan sepakat bahwa Muhammad lahir di bulan Rabiulawal, kendati mereka berbeda pendapat tentang tanggalnya. Di kalangan Syi'ah, sesuai dengan arahan para Imam yang merupakan keturunan langsung Muhammad, menyatakan bahwa ia lahir pada hari Jumat, 17 Rabiulawal; sedangkan kalangan Sunni percaya bahwa ia lahir pada hari Senin, 12 Rabiulawal atau (2 Agustus 570M).[4]

Ketika Muhammad mencapai usia remaja dan berkembang menjadi seorang yang dewasa, ia mulai mempelajari ilmu bela diri dan memanah, begitupula dengan ilmu untuk menambah keterampilannya dalam berdagang. Perdagangan menjadi hal yang umum dilakukan dan dianggap sebagai salah satu pendapatan yang stabil. Muhammad menemani pamannya berdagang ke arah Utara dan secepatnya tentang kejujuran dan sifat dapat dipercaya Muhammad dalam membawa bisnis perdagangan telah meluas, membuatnya dipercaya sebagai agen penjual perantara barang dagangan penduduk Mekkah.

Seseorang yang telah mendengar tentang anak muda yang sangat dipercaya dengan adalah seorang janda yang bernama Khadijah. Ia adalah seseorang yang memiliki status tinggi di suku Arab dan Khadijah sering pula mengirim barang dagangan ke berbagai pelosok daerah di tanah Arab. Reputasi Muhammad membuatnya terpesona sehingga membuat Khadijah memintanya untuk membawa serta barang-barang dagangannya dalam perdagangan. Muhammad dijanjikan olehnya akan dibayar dua kali lipat dan Khadijah sangat terkesan dengan sekembalinya Muhammad dengan keuntungan yang lebih dari biasanya.

Akhirnya, Muhammad pun jatuh cinta kepada Khadijah kemudian mereka menikah. Pada saat itu Muhammad berusia 25 tahun sedangkan Khadijah mendekati umur 40 tahun, tetapi ia masih memiliki kecantikan yang menawan. Perbedaan umur yang sangat jauh dan status janda yang dimiliki oleh Khadijah, tidak menjadi halangan bagi mereka, karena pada saat itu suku Quraisy memiliki adat dan budaya yang lebih menekankan perkawinan dengan gadis ketimbang janda. Walaupun harta kekayaan mereka semakin bertambah, Muhammad tetap sebagai orang yang memiliki gaya hidup sederhana, ia lebih memilih untuk mendistribusikan keuangannya kepada hal-hal yang lebih penting.

Ketika Muhammad berumur 35 tahun, ia bersatu dengan orang-orang Quraisy dalam perbaikan Ka'bah. Ia pula yang memberi keputusan di antara mereka tentang peletakan Hajar al-Aswad di tempatnya. Saat itu ia sangat masyhur di antara kaumnya dengan sifat-sifatnya yang terpuji. Kaumnya sangat mencintai beliau, hingga akhirnya beliau memperoleh gelar Al-Amin yang artinya Orang yang dapat Dipercaya.

Diriwayatkan pula bahwa Muhammad percaya sepenuhnya dengan ke-Esaan Tuhan. Ia hidup dengan cara amat sederhana dan membenci sifat-sifat angkuh dan sombong. Ia menyayangi orang-orang miskin, para janda dan anak-anak yatim serta berbagi penderitaan dengan berusaha menolong mereka. Ia juga menghindari semua kejahatan yang biasa di kalangan bangsa Arab pada masa itu seperti berjudi, meminum minuman keras, berkelakuan kasar dan lain-lain, sehingga ia dikenal sebagai As-Saadiq yang memiliki arti Yang Benar.

Gua Hira tempat pertama kali Muhammad memperoleh wahyu

Muhammad dilahirkan di tengah-tengah masyarakat terbelakang yang senang dengan kekerasan dan pertempuran dan menjelang usianya yang ke-40, ia sering menyendiri ke Gua Hira' sebuah gua bukit sekitar 6 km sebelah timur kota Mekkah, yang kemudian dikenali sebagai Jabal An Nur. Ia bisa berhari-hari bertafakur dan beribadah disana dan sikapnya itu dianggap sangat bertentangan dengan kebudayaan Arab pada zaman tersebut dan di sinilah ia sering berpikir dengan mendalam, memohon kepada Allah supaya memusnahkan kekafiran dan kebodohan.

Pada suatu malam sekitar tanggal 17 Ramadhan/ 6 Agustus 611, ketika Muhammad sedang bertafakur di Gua Hira', Malaikat Jibril mendatanginya. Jibril membangkitkannya dan menyampaikan wahyu Allah di telinganya. Ia diminta membaca. Ia menjawab, "Saya tidak bisa membaca". Jibril mengulangi tiga kali meminta agar Muhammad membaca, tetapi jawabannya tetap sama. Akhirnya, Jibril berkata:

Ini merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad. Ketika itu ia berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun kamariah (penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun syamsiah (penanggalan berdasarkan matahari). Setelah pengalaman luar biasa di Gua Hira tersebut, dengan rasa ketakutan dan cemas Muhammad pulang ke rumah dan berseru pada Khadijah untuk menyelimutinya, karena ia merasakan suhu tubuhnya panas dan dingin secara bergantian. Setelah hal itu lewat, ia menceritakan pengalamannya kepada sang istri.

Untuk lebih menenangkan hati suaminya, Khadijah mengajak Muhammad mendatangi saudara sepupunya, yaitu Waraqah bin Naufal, yang banyak mengetahui nubuat tentang nabi terakhir dari kitab-kitab suci Kristen dan Yahudi. Mendengar cerita yang dialami Muhammad, Waraqah pun berkata, bahwa ia telah dipilih oleh Tuhan menjadi seorang nabi. Kemudian Waraqah menyebutkan bahwa An-Nâmûs al-Akbar (Malaikat Jibril) telah datang kepadanya, kaumnya akan mengatakan bahwa ia seorang penipu, mereka akan memusuhi dan melawannya.

Wahyu turun kepadanya secara berangsur-angsur dalam jangka waktu 23 tahun. Wahyu tersebut telah diturunkan menurut urutan yang diberikan Muhammad, dan dikumpulkan dalam kitab bernama Al Mushaf yang juga dinamakan Al- Qurʾān (bacaan). Kebanyakan ayat-ayatnya mempunyai arti yang jelas, sedangkan sebagiannya diterjemahkan dan dihubungkan dengan ayat-ayat yang lain. Sebagian ayat-ayat adapula yang diterjemahkan oleh Muhammad sendiri melalui percakapan, tindakan dan persetujuannya, yang terkenal dengan nama As-Sunnah. Al-Quran dan As-Sunnah digabungkan bersama merupakan panduan dan cara hidup bagi "mereka yang menyerahkan diri kepada Allah", yaitu penganut agama Islam.

Di Mekkah terdapat Ka'bah yang telah dibangun oleh Nabi Ibrahim. Masyarakat jahiliyah Arab dari berbagai suku berziarah ke Ka'bah dalam suatu kegiatan tahunan, dan mereka menjalankan berbagai tradisi keagamaan mereka dalam kunjungan tersebut. Muhammad mengambil peluang ini untuk menyebarkan Islam. Di antara mereka yang tertarik dengan seruannya ialah sekumpulan orang dari Yathrib (dikemudian hari berganti nama menjadi Madinah). Mereka menemui Muhammad dan beberapa orang Islam dari Mekkah di suatu tempat bernama Aqabah secara sembunyi-sembunyi. Setelah menganut Islam, mereka lalu bersumpah untuk melindungi Islam, Rasulullah (Muhammad) dan orang-orang Islam Mekkah.

Tahun berikutnya, sekumpulan masyarakat Islam dari Yathrib datang lagi ke Mekkah. Mereka menemui Muhammad di tempat mereka bertemu sebelumnya. Abbas bin Abdul Muthalib, yaitu pamannya yang saat itu belum menganut Islam, turut hadir dalam pertemuan tersebut. Mereka mengundang orang-orang Islam Mekkah untuk berhijrah ke Yathrib. Muhammad akhirnya setuju untuk berhijrah ke kota itu. Mengetahui bahwa banyak masyarakat Islam berniat meninggalkan Mekkah, masyarakat jahiliyah Mekkah berusaha menghalang-halanginya, karena beranggapan bahwa bila dibiarkan berhijrah ke Yathrib, orang-orang Islam akan mendapat peluang untuk mengembangkan agama mereka ke daerah-daerah yang lain. Setelah berlangsung selama kurang lebih dua bulan, masyarakat Islam dari Mekkah pada akhirnya berhasil sampai dengan selamat ke Yathrib, yang kemudian dikenal sebagai Madinah atau "Madinatun Nabi" (kota Nabi).

Di Madinah, pemerintahan (kalifah) Islam diwujudkan di bawah pimpinan Muhammad. Umat Islam bebas beribadah (shalat) dan bermasyarakat di Madinah. Quraish Makkah yang mengetahui hal ini kemudian melancarkan beberapa serangan ke Madinah, akan tetapi semuanya dapat diatasi oleh umat Islam. Satu perjanjian damai kemudian dibuat dengan pihak Quraish. Walaupun demikian, perjanjian itu kemudian diingkari oleh pihak Quraish dengan cara menyerang sekutu umat Islam.

Selama hidupnya Muhammad menikahi 11 atau 13 orang wanita (terdapat perbedaan pendapat mengenai hal ini). Pada umur 25 Tahun ia menikah dengan Khadijah, yang berlangsung selama 25 tahun hingga Khadijah wafat.[8] Pernikahan ini digambarkan sangat bahagia,[9][10] sehingga saat meninggalnya Khadijah (yang bersamaan dengan tahun meninggalnya Abu Thalib pamannya) disebut sebagai tahun kesedihan.

Sepeninggal Khadijah, Muhammad disarankan oleh Khawla binti Hakim, bahwa sebaiknya ia menikahi Sawda binti Zama (seorang janda) atau Aisyah (putri Abu Bakar, dimana Muhammad akhirnya menikahi keduanya. Kemudian setelah itu Muhammad tercatat menikahi beberapa wanita lagi sehingga mencapai total sebelas orang, dimana sembilan diantaranya masih hidup sepeninggal Muhammad.

Para ahli sejarah antara lain Watt dan Esposito berpendapat bahwa sebagian besar perkawinan itu dimaksudkan untuk memperkuat ikatan politik (sesuai dengan budaya Arab), atau memberikan penghidupan bagi para janda (saat itu janda lebih susah untuk menikah karena budaya yang menekankan perkawinan dengan perawan).[11]

»»  READMORE...

    Selamat Datang Para Pembaca

    Selamat datang di blog anak universitas jambi ini, semoga bermanfaat dan sukses buat kita semua

    PILIHAN